Tak terasa setahu kita lalui suka dan duka, rindu dan amarah, canda tawa...
Mungkin terkadang aku ingin kita kembali kemasa dimana kita baru pacaran...
Tapi aku tau itu tak mungkin terjadi...
Bagaimanapun dirimu saat ini,,, apapun yang ada padamu saat ini...
Aku tetap mencintaimu apa adanya, sama seperti saat dulu ku menerimamu menjadi kekasihku...
Hari ini tepat satu tahun kita pacaran, walau ada sedikit kekecewaan...
Namun itu tak terlalu berarti apa-apa...
Aku sayang sama kamu, dan rasa sayang ini semakin bertambah seiring bertukarnya waktu...
Seperti kata Whitney Houston "I Will Always Love You"
22 February 2013
05 February 2013
4 Februari 2013
Dear My Blog….
Aku merindukan dia yang dulu.
Atau sebenarnya aku merindukan aku yang dulu....
ENTAHLAH...
Semoga perasaanku ini salah, semoga semua hanya kekeliruanku saja....
aku berharap dia dapat menjalani hidupnya dengan baik dan benar...
Sedih rasanya melihat dia harus memikul beban itu sekarang...
kadang aku berfikir sungguh sangat tidak adil dunia ini padanya...
Tuhan, tolong jaga dia selalu. berikan kasih sayangMu padanya.
Izinkan aku mencintai dan menyayanginya hanya karenaMu, Tuhan....
with love
08 November 2012
Kata-Kata Terakhir Dari Seorang Guru
Guru itu pamanku, aku tak mengerti kenapa aku harus masuk ke
sekolah ditempat pamanku bekerja. Ayah yang memaksaku untuk masuk kesekolah
swasta tempat paman bekerja. Katanya agar mudah mengawasi dan mengontrol
pendidikanku.
Menurutku aku tidak termasuk anak nakal atau anak badung, ya
walau terkadang aku lupa mengerjakan tugas rumah yang diberikan. Nilai-nilaiku
pun termasuk kategori lumayan, gak jelek tapi gak juga bagus sih. Yang aku tau
seharusnya aku bisa masuk sekolah negeri dengan nilai seperti ini.
Sejujurnya aku malu jika teman-teman disekolahku mengetahui
guru kewarganegaraan yang sedang mengajar ini adalah pamanku. Kondisi Pak
Herman sudah sangat jauh dari kata sehat, karena Pak Herman menderita diabetes
atau bisa disebut kencing manis sudah 5 tahun ini. Pandangan mata Pak Herman sudah
kabur, bahkan mungkin dapat dikatakan sedikit lagi buta.
Tadi pagi sebelum masuk kelas saja Pak Herman berjalan
dengan meraba-raba dinding sekolah mencari pintu masuk. Murid-murid yang
sekelas denganku memperhatikan dengan wajah sedih sebagian mangacuhkannya
termasuk aku.
Pada saat pelajaran dimulai Pak Herman menjelaskan tentang
nasionalisme bangsa yang sudah terkikis. Dipertengahan jam pelajaran beberapa
teman keluar masuk kelas seenaknya perutnya saja. Aku yang sudah merasa bosan
pun mengikuti beberapa teman untuk keluar menuju kantin.
Setiap Pak Herman masuk kelas aku sering pergi ke kantin, hingga
yang tersisa dikelas kurang dari setengah jumlah siswa kelasku. Meskipun penglihatan
Pak Herman sudah kabur, beliau sebenarnya tetap mengetahui apa saja yang
dilakukan muridnya didalam kelas. Tapi beliau tetap bersabar menerima perlakuan
seperti itu dari murid-murid yang di sayanginnya.
Hingga suatu hari Pak Herman tidak masuk kelas seperti biasa.
Seisi kelas bertanya-tanya kepadaku, kemanakah Pak Herman yang selama ini rajin
masuk. Walaupun aku keponakannya, aku juga tidak mengetahui keberadaan Pak
Herman hari itu. Saat tiba dirumah aku dikejutkan dengan kabar pamanku masuk
rumah sakit. Keadaannya sangat drop hingga paman pingsan dikamar mandi pagi
tadi saat bersiap-siap untuk mengajar.
Malam itu aku beserta ayah dan bunda segera menjenguk paman
dirumah sakit umum daerah. Kulihat tubuh yang kini terbaring lemah itu tetap
menyunggingkan senyuman tulus dari bibirnya yang pucat ketika mengetahui
kehadiran kami. Sungguh pemandangan yang
menyayat hati, apalagi saat ingat semua tingkahku disekolah terhadap paman.
Karena rasa bersalah itulah aku memutuskan untuk minta izin
menemani paman di rumah sakit malam itu. Keesokan harinya beberapa guru dan
perwakilan siswa datang membesuk paman. Betapa bahagianya paman melihat
murid-muridnya dan rekan kerjanya datang menunjukkan kepedulian mereka. Setelah
seminggu dirawat kondisi paman mulai membaik jadi paman sudah diperbolehkan
pulang.
Esoknya paman sudah bersiap untuk berangkat mengajar seperti
biasa. Paman tidak mau disuruh beristirahat dirumah, katanya sudah rindu dengan
murid-murid disekolah. Mulai hari ini aku berjanji tidak akan mengacuhkan paman
lagi disekolah.
Dan seperti biasa Pak Herman memasuki kelas dengan
meraba-raba dinding sekolah. Beda ketika mendekati sekelas dengan segera aku
menuntun langkah Pak Herman hingga sampai di meja guru. Teman-teman yang
selama ini sering di kantin bersamaku melihat dengan terheran-heran. Sebagian melihat
dengan ekspresi mengejek, sebagian lagi dengan ekspresi penuh tanda tanya.
Ketika jam istirahat teman-teman yang tadi bertanya-tanya
sendiri kini langsung menanyaiku ada apa gerangan dengan sikapku tadi. Kini aku
tidak lagi malu menyatakan Pak Herman adalah pamanku, kakak laki-laki pertama
ibuku.
Aku tidak pernah menceritakan secara jelas kepada
teman-teman tentang penderitaan paman. Karena paman gak mau murid-muridnya memandangnnya
dengan iba, paman hanya ingin melihat murid-muridnya sukses dan tersenyum ceria
setiap harinya. Paman dikenal sebagai Pak Herman guru kewarganegaraan kami yang
begitu mencintai pekerjaannya yang mulai tersebut. Sebagai guru Pak Herman tak
pernah dan tak kan mau mengeluhkan kondisinya dihadapan murid-muridnya. Pak
Herman hanya memperlihatkan dirinya sebagai sosok yang kuat.
Hingga suatu hari aku dibangunkan dengan mimpi buruk. Kondisi
paman kembali drop, keadaan paman sudah tidak sadarkan diri. Berhari-hari aku
menemani tante dirumah sakit menjaga paman yang dalam keadaan tidak sadarkan
diri. Hingga suatu malam paman siuman dan Beliau berkata dengan lirih “bu
(memanggil istrinya) aku ingin kembali kesekolah, aku ingin mengajar lagi. Aku cuma
ingin anak-anakku disekolah bisa menjadi generasi terbaik yang dimiliki bangsa
ini. Aku ingin mereka berguna bagi nusa bangsa terutama keluarga.” Setelah menyelesaikan
kalimatnya paman kembali menutup matanya. Ruang kamarnya tiba-tiba menjadi haru
biru oleh isak tangis tante dan keluarga yang kebetulan sedang berada di rumah
sakit.
Pamanku telah pergi untuk selamanya, pamanku guruku
pahlawanku.
Selamat jalan Pak Herman, terimakasih atas cinta kasihmu
selama ini untuk kami murid-muridmu. Ilmu yang engkau berikan pasti akan
berguna bagi kami kini maupun nanti.
sumber foto : http://yudisupriadisangpengabdi.blogspot.com/2011/09/menjadi-guru-adalah-pilihan-yang-berani.html
Guruku Sahabatku, Guruku Orang Tuaku, Guruku Pahlawanku
16 tahun sudah aku mengenal kata “guru” dalam hidupku.
Bermulai ketika aku duduk dibangku tanaman kanak-kanak selama setahun,
dilanjutkan dengan jenjang wajib belajar 9 tahun dan disekolah menengah atas
selama 3 tahun. Termasuk hingga saat ini aku berada di perguruan tinggi,
disinipun aku mengenal sosok guru dalam dunia perkuliahan mereka yang biasa
disapa “dosen” juga merupakan guru bagiku.
Sebenarnya diluar dari guru-guru diatas terdapat juga guru-guru
lain dalam hidupmu. Dimana mereka memberikan pelajaran hidup yang luar biasa
bagiku, yaitu kedua orang tuaku. Ya, memang kedua orang tuaku menjadi guru
bagiku untuk mengajariku cara berjalan dan berbicara. Mereka menjadi guru
bagiku hingga saat mereka menitipkanku kepada guru-guru yang sesungguhnya
dibangku sekolah nantinya.
Saat memasuki bangku taman kanak-kanak yang ku tahu hanyalah
hari-hari yang penuh canda tawa. Hari-hari disekolah menjadi tidak membosankan
dengan adanya ibu guru yang kreatif. Ibu guru tidak akan membiarkan anak
muridnya bersedih apa lagi sampai menangis. Yang ku ingat pernah suatu saat
bunda belum menjemputku, dikarenakan bunda dinas sore di rumah sakit umum
daerah ketika itu. Lalu dengan sabar ibu guru mengantarkan ku pulang ke tempat
bunda bekerja.
Enam tahun disekolah dasar juga banyak memberiku pelajaran,
banyak pula kenangan yang terjadi antara aku, teman-teman, dan guru. Saat masuk
SD aku belum bisa baca tulis, ya hal ini dikarena aku yang terlena dengan canda
tawa di TK atau mungkin karena pada zamanku dulu memang begitulah porsi
seharusnya pendidikan anak-anak. Hahahaaaa, dengan mendapat perlakuan spesial
aku mengikuti les setelah jam pulang sekolah. Ibu guru dengan sabar pulang
terlambat kerumah hanya untuk mengajariku dan teman-teman yang senasib membaca,
menulis, dan berhitung.
Ada satu kenangan disekolah dasar yang tak akan aku lupakan
begitu saja. Saat dimana aku mendapati salah seorang bapak guru ku menangis
diruang guru. Sosok bapak yang kukira kuat, bahkan menitikan airmatanya
dikarenakan salah seorang muridnya susah diatur. Ternyata begitulah seorang
guru, walaupun dia laki-laki namun akan bersedih jika muridnya berbuat yang tak
semestinya. Yang ku tau guru-guru disekolah ku sangat menyayangi
murid-muridnya.
Dibangku SMP aku mendapatkan pelajaran yang sangat besar
tentang arti kejujuran, tanggungjawab, dan kepatuhan terhadap hukum. Saat itu
aku sudah duduk dikelas 3 SMP, dimana setiap siswa kelas 3 wajib mengikuti les
tambahan disekolah setelah jam pulang sekolah. Pada suatu hari ibu kepala
sekolah marah besar dengan siswa kelas 3 yang membawa sepeda motor kesekolah.
Hal ini terjadi akibat insiden hari kemarin, salah seorang temanku menabrak
pagar rumah mewah yang tepat berada didepan sekolahku hingga penyok. Temanku yang
menabrak ini bukannya bertanggungjawab malah kabur, sehingga pemiliki rumah
melapor ke pihak sekolah. Ibu kepala sekolah yang marah mengundang polentas
untuk mengarahkan kami yang membawa kendaraan. Sejak saat itu siswa yang tidak
memiliki SIM dilarang membawa motor kesekolah. Setelah kejadian ini ibu kepala
sekolah bercerita kepada kelasku. Ibu marah karena ibu sangat sayang dengan
kami siswanya, ibu gak mau terjadi hal yang tidak diinginkan diluar sekolah.
Hal-hal yang tidak diinginkan ini seperti kecelakaan lalulintas yang bisa saja
lebih parah daripada sekedar menabrak pagar rumah. Ibu juga ingin mengajarkan
kepada murid-muridnya untuk bertanggung jawab.
Ketika SMA terlalu banyak kenanganku bersama guru-guru, baik
itu kenangan indah maupun kenangan buruk. Hehehe, mulai dari canda tawa bersama
didalam kelas hingga dipanggil ke ruang BK. Aku sampai bingung bagaimana
menceritakannya, yang aku tau di bangku SMA aku mendapati arti hidup yang
sesungguhnya dari guru-guruku. Ada salah seorang guruku yang begitu memberikan
perhatian kepada siswanya. Saat itu ada seorang siswi yang bermasalah harus
dikeluarkan dari sekolah. Siswi tersebut ketahuan hamil diluar nikah, namun
pihak sekolah tidak serta merta mengeluarkan siswi tersebut. Siswa tersebut
diberi kesempatan untuk mengundurkan diri dengan terhormat. Padahal siswi
tersebut sebentar lagi akan menghadapi Ujian Nasional. Guru bahasa Inggris yang
begitu care sama siswa ini tidak tinggal diam. Begitu siswi tersebut
melahirkan, mam (panggilan sehari-hari guru bahasa inggris tersebut)
menghubunginya dan menyarankan untuk kembali mendaftar disalah satu sekolah
swasta yang ada dikotaku. Mam membantu siswi tersebut sepenuhnya hingga siswi
tersebut dapat mengikuti UN dan akhirnya siswi tersebut dapat lulus SMA.
Hingga saat ini aku berada ditahun terakhirku di salah satu
perguruan tinggi negeri aku masih mendapati sosok-sosok guru pada dosen-dosenku
disini. Mereka yang siap selalu untuk membantu dan mendidik mahasiswanya.
Dosen-dosen yang hadir dikelas tak hanya sekedar mengajar, tapi juga mendidik
kami agar kelak dapat menjadi manusia yang berguna bagi negeri ini.
Sebenarnya aku tak dapat menjabarkan bagaimana sosok “guruku
pahlawanku” tapi aku hanya menjabarkan “arti seorang guru bagi hidupku. Semoga
tulisan ini dapat bermanfaat bagiku dan bagi kita semua.
Terimakasihku untuk Guru-Guruku di :
TK Pertiwi Disbun Kota Pontianak 1996-1997
SD Muhammadiyah 2 pontianak Thn 1997-2003
SMP Negeri 10 Pontianak Thn 2003-2006
SMA Negeri 3 Pontianak Thn 2006-2009
(Dosen) Fakultas Hukum Universitas Andalas 2009-Sekarang
Subscribe to:
Posts (Atom)


