18 October 2013
18 May 2013
Anugerah Terindah
Melihat tawamu
Mendengar senandungmu
Terlihat jelas dimataku
Warna - warna indahmu
Menatap langkahmu
Meratapi kisah hidupmu
Terlukis jelas bahwa hatimu
Anugerah terindah yang pernah kumiliki
Sifatmu nan s'lalu
Redakan ambisiku
Tepikan khilafku
Dari bunga yang layu
Saat kau disisiku
Kembali dunia ceria
Tegaskan bahwa kamu
Anugerah terindah yang pernah kumiliki
Belai lembut jarimu
Sejuk tatap wajahmu
Hangat peluk janjimu
16 April 2013
Dalam....
Dalam kesunyian malam, kamulah nada-nada indah pengantar tidurku...
Dalam kegelapan sang malam, kamulah pelitaku...
Dalam dinginnya pelukan malam, kamulah selimut hatiku....
Dalam kegelapan sang malam, kamulah pelitaku...
Dalam dinginnya pelukan malam, kamulah selimut hatiku....
Petak Umpet Ala Tuhan (Repost)
Pada suatu saat Tuhan memberi tebakan kepada pada
malaikat-malaikatnya, “Jika Aku mau bermain petak umpet dengan manusia,
apakah kalian tahu dimana tempat yang paling aman untuk bersembunyi ?”
Malaikat pertama menjawab, “Di dalam laut terdalam !”
“Salah” jawab Tuhan. “Manusia tetap dapat menemukanku, dengan akal pikirannya mereka dapat menciptakan kapal selam canggih yang dapat memetakan seluruh isi laut.”
Malaikat kedua menjawab, “Di puncak gunung Himalaya !”
“Lebih salah lagi !” Tuhan menjawab, “Tanpa teknologi pun manusia dapat menjangkau tempat itu.”
Malaikat ketiga menjawab, “Di bintang atau planet yang sangat jauh dari bumi !”
“Kalau ini sangat konyol !” Tuhan tersenyum, “Tidak usah pergi-pergi jauh kesana pun, manusia sekarang sudah mampu mengintipnya dengan teropong !”
…
Setelah beberapa lama tidak ada jawaban dari para malaikat-Nya, Tuhan pun membeberkan jawaban tebakan itu.
“Jika ingin tidak terlihat, Aku lebih suka bersembunyi di dalam hati manusia, karena akhir-akhir ini manusia mulai jarang memperhitungkan hatinya..”
Tuhan lalu melanjutkan, “Berbahagialah manusia yang bersih hatinya, karena mereka dapat melihat Aku..”
(Dari “The Orbis” ; William Dych, SJ; 1999)
Malaikat pertama menjawab, “Di dalam laut terdalam !”
“Salah” jawab Tuhan. “Manusia tetap dapat menemukanku, dengan akal pikirannya mereka dapat menciptakan kapal selam canggih yang dapat memetakan seluruh isi laut.”
Malaikat kedua menjawab, “Di puncak gunung Himalaya !”
“Lebih salah lagi !” Tuhan menjawab, “Tanpa teknologi pun manusia dapat menjangkau tempat itu.”
Malaikat ketiga menjawab, “Di bintang atau planet yang sangat jauh dari bumi !”
“Kalau ini sangat konyol !” Tuhan tersenyum, “Tidak usah pergi-pergi jauh kesana pun, manusia sekarang sudah mampu mengintipnya dengan teropong !”
…
Setelah beberapa lama tidak ada jawaban dari para malaikat-Nya, Tuhan pun membeberkan jawaban tebakan itu.
“Jika ingin tidak terlihat, Aku lebih suka bersembunyi di dalam hati manusia, karena akhir-akhir ini manusia mulai jarang memperhitungkan hatinya..”
Tuhan lalu melanjutkan, “Berbahagialah manusia yang bersih hatinya, karena mereka dapat melihat Aku..”
(Dari “The Orbis” ; William Dych, SJ; 1999)
Subscribe to:
Posts (Atom)
